Menyertakan Semua, Membangun Masa Depan

07 Desember 2022|Martinus Dam Febrianto, SJ

Setiap tahun, sejak 1914, Gereja memperingati Hari Pengungsi dan Migran Sedunia. Ini adalah saat bagi umat beriman dan juga masyarakat dunia untuk mengungkapkan perhatian terhadap para migran dan pengungsi yang hidup dalam kerentanan. 

Kita diajak untuk berdoa dan melakukan tindakan konkret bagi mereka karena berbagai tantangan hidup yang mesti mereka hadapi sebagai orang-orang dalam perjalanan (people on the move) yang pergi meninggalkan negeri asal oleh beragam sebab dan tinggal di negeri orang lain. Ini juga menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran kita mengenai peluang-peluang positif yang muncul karena fenomena migrasi manusia. Sebagaimana diketahui, migrasi menyertai sejarah keberadaan manusia di bumi dan telah menjadi penggerak bagi perkembangan peradaban manusia.

Hari Pengungsi dan Migran Sedunia kali ini diperingati dalam realitas perpindahan paksa yang menembus rekor tertinggi dalam sejarah. Menurut UNHCR, lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia terpaksa pindah karena penganiayaan, konflik, kekerasan, dan berbagai pelanggaran hak-hak asasi. Ini berarti, 1 dari setiap 78 orang di dunia mengalami perpindahan paksa. Tingginya angka pengungsi dan orang-orang yang terpaksa pindah tentu menyedihkan hati, apalagi sekitar 41% dari mereka adalah anak-anak. Bersama dengan sekitar 280 juta migran di seluruh dunia, mereka tergolong kelompok dengan situasi hidup sangat rentan. Namun demikian, alih-alih berhenti pada kemuraman, realitas ini justru menjadi panggilan bagi kita untuk bertanya, “Apa yang bisa kita lakukan untuk para pengungsi dan migran rentan?”

Paus Fransiskus mengangkat tema untuk Hari Pengungsi dan Migran Sedunia 2022 ini “Membangun Masa Depan bersama Para Migran dan Pengungsi” (Building the Future with Migrants and Refugees). Beranjak dari iman Kristiani yang memanggil semua orang untuk terlibat dalam pembangunan Kerajaan Allah, Paus mengajak umat manusia untuk menyertakan segenap pihak dalam upaya-upaya menuju masa depan dunia yang lebih baik. Dunia yang lebih baik, menurut Paus, mesti diupayakan tanpa mengecualikan sebagian dari warga dunia. Semua mesti diikutsertakan. Tidak boleh ada yang dieksklusikan karena berada dalam situasi yang sulit dan terpinggirkan, seperti para pengungsi dan migran rentan.

Paus Fransiskus suka mengibaratkan hidup manusia sebagai suatu perjalanan. Umat manusia pada dasarnya adalah orang-orang yang berada dalam perjalanan dan makna paripurna dari perjalanan kita di dunia ini adalah suatu penyusuran menuju tanah air yang sejati. Dalam perspektif Kristiani, tanah air sejati yang dimaksudkan adalah Kerajaan Allah yang sebelumnya telah diresmikan oleh Kristus, yang akan sampai pada kepenuhannya ketika Ia datang dalam kemuliaan. Kerajaan ini bersifat eskatologis atau masih dinantikan. Namun demikian, pada saat yang sama Kerajaan ini telah datang, yakni kepada mereka yang menerima keselamatan yang ditawarkan-Nya (par. 1). 

Menurut Paus, tragedi-tragedi dalam sejarah menjadi pengingat betapa jauh umat manusia untuk sampai pada tujuan di atas, yang disebut oleh penulis Kitab Wahyu sebagai Yerusalem baru, tempat tinggal Allah dan manusia (Why. 21:3). Namun demikian, jauhnya panggang dari api ini tidak harus membuat orang kehilangan harapan. Alih-alih kehilangan harapan, kita diundang untuk membarui komitmen demi membangun suatu masa depan yang mengkonfirmasi secara lebih penuh rencana Allah untuk suatu dunia di mana setiap orang dapat hidup dalam damai dan bermartabat (par. 2). 

Paus menekankan kembali bahwa tak seorangpun dieksklusikan dalam rencana keselamatan Allah yang secara esensial inklusif dan bahkan memberi prioritas pada mereka yang tinggal di pinggiran eksistensial. Kerajaan Allah perlu dibangun oleh mereka yang ada di pinggiran, yakni para migran, pengungsi lintas batas, pengungsi internal, juga para korban perdagangan manusia, karena tanpa mereka tidak akan ada Kerajaan yang dikehendaki Allah. Inklusi terhadap mereka, dalam pemikiran Paus Fransiskus,merupakan “the necessary condition for full citizenship in God’s Kingdom”, mengutip kisah pengadilan terakhir (Mat. 25:34-36) (lih. par. 4). 

Demi membangun masa depan bersama mereka, menurut Paus kita perlu mengenali dan mengakui bagaimana tiap-tiap migran dan pengungsi dapat berkontribusi dalam proses “konstruksi” masa depan, misalnya dalam pertumbuhan sosial dan ekonomi (par. 6), juga dalam pertumbuhan budaya dan spiritual (par. 7). Terakhir, Paus mengajak orang-orang muda untuk bersama-sama para migran dan pengungsi membangun masa depan sekarang juga (par. 9). Pesan Paus untuk Hari Pengungsi dan Migran Sedunia adalah inspirasi di tengah dunia yang terbagi-bagi dan cenderung mencari penyelesaian unilateral terhadap tantangan-tantangan global yang seharusnya dihadapi bersama.

Lih. Pope Francis, “Building the Future with Migrants and Refugees,” Message of His Holiness Pope Francis for the 108th World Day of Migrants and Refugees 2022 (25 September 2022), diakses dari https://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/migration/documents/20220509-world-migrants-day-2022.html. 

Baca lebih lanjut