Lepas Bebas: Satu dari Banyak Cara Mengenal Tuhan di Tanah Pengungsian

26 April 2026|Fahrian Saleh

BERTAHUN-tahun hidup jauh dari negara tercinta dan menjalani kehidupan sebagai pengungsi menjadi bagian dari berbagai kesulitan yang dialami Grace Belle, salah satu dari sebelas ribu pengungsi yang saat ini berada di Indonesia. Berasal dari negara yang jauh di seberang benua, Grace bersama keluarganya terpaksa meninggalkan rumah demi mencari kehidupan yang lebih aman dan layak.

Sebenarnya mereka ingin menuju ke negara-negara penerima pengungsi seperti Kanada atau Australia. Namun, kenyataan berkata lain. Indonesia menjadi negara transit yang harus mereka tinggali dalam waktu yang tidak pasti, dengan berbagai keterbatasan sebagai pengungsi. Konflik di negara asalnya, Kongo, menciptakan situasi yang tidak kondusif dan memaksa Grace serta keluarganya mengambil keputusan besar untuk pergi, tanpa kepastian kapan dapat kembali.

Di tengah segala ketidakpastian itu, selama kurang lebih sembilan tahun, Grace tetap teguh dalam imannya. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik, ia menjadikan iman sebagai pegangan utama dalam menjalani hidup. Setiap minggu, ia rutin pergi ke gereja. Di sana, Grace mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan, mengungkapkan rasa syukur, kegelisahan, hingga kepahitan yang ia rasakan. Dalam doa, ia menemukan ketenangan dan keyakinan bahwa dirinya tidak sendiri.

Bagi Grace, doa adalah ruang untuk pulang. Meski jauh dari tanah kelahiran, setiap momen berdoa menghadirkan rasa damai, kehadiran Tuhan yang nyata. Doa juga menjadi caranya untuk bersyukur atas setiap hal kecil dalam hidupnya. Grace kemudian memahami konsep lepas bebas, yaitu penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Ketika merasa tidak memiliki apa-apa, bagi Grace justru di situlah Tuhan hadir dan mencukupinya, bahkan berkali lipat.

Dalam setiap kesulitan yang tidak mampu ia hadapi sendiri, ia belajar untuk berserah dan percaya bahwa Tuhan selalu menyertainya.

Titik balik dalam hidup Grace terjadi ketika ia mulai menyadari potensi dirinya. Kecintaannya pada dunia seni mendorongnya untuk aktif berkarya, khususnya dalam musik. Ia menulis lirik dan menciptakan aransemen lagu secara mandiri.

Melalui karya-karyanya, ia tidak hanya mengekspresikan perasaan, tetapi juga membangun jejaring dengan sesama pengungsi dan komunitas lokal. Salah satu karyanya yang berjudul “Save Me God” lahir dari refleksi doa-doanya.

Lagu tersebut menggambarkan permohonan tulus kepada Tuhan untuk memberikan pertolongan dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan. Musik menjadi medium bagi Grace untuk menyampaikan iman, harapan, dan perjuangannya.

Dalam rangkaian kegiatan public awareness yang diselenggarakan oleh tim JRS Indonesia di wilayah Jakarta, Grace berkesempatan membagikan kisah hidupnya. Ia berbicara di hadapan komunitas Persekutuan Doa Pembaharuan Karismatik Katolik pada 6 Februari 2026 di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Ratu, Paroki Blok Q, Kebayoran, serta dalam pertemuan bulanan Komunitas Magis Indonesia bertema Panggilan Raja pada 8 Februari 2026 di Kolese Kanisius, Jakarta Pusat.

Sejalan dengan konsep lepas bebas, Frater Franky Njoto, S.J. dalam pertemuan tersebut turut mengulasnya dari perspektif spiritualitas Ignasian. Berakar pada pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola, spiritualitas ini menempatkan lepas bebas sebagai sikap batin yang penting dalam relasi manusia dengan Allah.

Ia menjelaskan bahwa lepas bebas bukan berarti tidak peduli atau acuh tak acuh, melainkan kebebasan batin dari keterikatan yang tidak teratur terhadap hal-hal duniawi, seperti kekayaan, kesehatan, kehormatan, bahkan rencana pribadi. Dalam perspektif ini, hal-hal tersebut tidak dijadikan tujuan utama, melainkan sarana untuk semakin memuliakan Allah. Dengan demikian, hati menjadi lebih terbuka dan siap memilih apa yang sungguh membawa pada kebaikan yang lebih besar (magis), sesuai kehendak Tuhan.

“Sikap lepas bebas ini menjadi dasar dalam proses discernment atau pembedaan roh dalam spiritualitas Ignasian. Ketika seseorang tidak lagi terikat secara berlebihan pada keinginan atau ketakutannya sendiri, ia lebih mampu mendengarkan gerak Roh Kudus dalam batinnya. Kebebasan batin ini memungkinkan seseorang mengambil keputusan secara jernih, bukan berdasarkan dorongan ego atau kepentingan diri, tetapi demi pelayanan yang lebih besar bagi sesama dan kemuliaan Allah,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa lepas bebas bukanlah kehilangan arah, melainkan jalan menuju kebebasan sejati—kebebasan untuk mencintai, melayani, dan memilih sesuai dengan kehendak Allah.

Konsep lepas bebas dan pengalaman hidup Grace menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dalam setiap persoalan, kita dipanggil untuk tetap mengandalkan Tuhan dalam perjalanan hidup kita masing-masing.