Jalan Kemanusiaan Lewat Sebuah Pertanyaan

25 Agustus 2026|Fahrian Saleh

Saya bisa menolong, membantu, terlibat, lewat apa ya?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, bagi Vembri, pertanyaan tersebut menjadi sebuah kegelisahan. Satu pertanyaan yang muncul lebih dari dua dekade lalu justru menjadi awal dari perjalanan panjangnya.

Saat tsunami menghantam wilayah Sumatera, khususnya Aceh, pada 2004, pria asal Gunungkidul, Yogyakarta, itu masih bekerja di sebuah perusahaan profit.

Seperti banyak orang lainnya, ia menyaksikan bencana tersebut melalui pemberitaan media yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Besarnya kehancuran dan penderitaan yang terjadi membuatnya bertanya-tanya tentang apa yang bisa ia lakukan.

Kala itu, kontribusinya sederhana. Melalui salah satu gereja yang membuka penggalangan dana untuk korban tsunami Aceh, ia turut berdonasi. Namun, beberapa bulan kemudian, sebuah telepon datang dan perlahan membuka pintu menuju dunia yang sama sekali baru baginya.

Pada awal Maret 2005, seorang rekan yang juga staf JRS Indonesia menghubunginya dan menginformasikan bahwa JRS sedang membutuhkan seseorang untuk membantu bagian keuangan. Bak gayung bersambut, di waktu yang hampir bersamaan, Vembri sedang dalam proses mengundurkan diri dari pekerjaan lamanya. Ia kemudian melamar dan diterima.

Perjalanan pria bernama lengkap Demetrius Vembri Turanto ini pun dimulai. Medan menjadi kota pertama tempat ia ditugaskan sebagai staf JRS Indonesia. Selama dua bulan, ia membantu tim mengelola keuangan, melakukan pembelian kebutuhan, serta memastikan berbagai kebutuhan pendukung tim di lapangan dapat terpenuhi.

Di sana, Vembri mulai mengenal dunia kerja sosial dan memahami bahwa kerja kemanusiaan tidak hanya tentang mereka yang berada di garis depan. Ada banyak pekerjaan yang tidak selalu terlihat, tetapi menentukan apakah sebuah pelayanan dapat berjalan. Dan Vembri berada di sana.

Waktu itu saya sebagai orang baru juga cukup kaget karena langsung diberikan kepercayaan yang begitu besar,” kenangnya.

Kepercayaan itu bukan sesuatu yang kecil. Ia diberikan kartu ATM beserta PIN dan buku rekening bank yang berisi uang hingga ratusan juta rupiah. Dana tersebut merupakan bagian dari sumber daya yang digunakan untuk mendukung kerja kemanusiaan.

Bagi Vembri, situasi tersebut menjadi sebuah ujian. Bukan hanya ujian kemampuan teknis sebagai seorang staf keuangan, tetapi juga ujian terhadap kejujuran dan komitmennya.

Dua puluh tahun kemudian, prinsip itu masih ia pegang.

Vembri (kanan) saat penggalangan dana JRS Indonesia di Gereja St. Antonius Padua, Purbayan, Surakarta.

Baginya, kerja kemanusiaan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berhadapan langsung dengan pengungsi atau berada di lokasi terdampak. Ada pula orang-orang yang memastikan bantuan dapat dipertanggungjawabkan, kebutuhan dapat dipenuhi, dan sumber daya yang dipercayakan kepada lembaga digunakan sebagaimana mestinya.

Dari balik laporan keuangan, Vembri melihat satu hal yang sama pentingnya dengan keterampilan teknis: kepercayaan.

Lebih dari 20 tahun berada di JRS Indonesia membuat Vembri tidak hanya bertumbuh sebagai seorang pekerja, tetapi juga menjadi bagian dari berbagai program kemanusiaan. Sesekali, ketika terjadi respons darurat atas bencana di Indonesia, ia turut mengambil bagian dalam kerja-kerja di lapangan, mulai dari melakukan assessment hingga mendukung proses distribusi bantuan dan berbagai kebutuhan respons lainnya.

Pengalaman tersebut memperluas pemahamannya bahwa kerja kemanusiaan membutuhkan banyak peran yang saling melengkapi. Tidak semua orang harus berada di posisi yang sama, tetapi setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bagian yang dipercayakan kepadanya dapat berjalan dengan baik.

Dua puluh tahun membuatnya bertahan di tempat ini dengan misi yang sama. Namun, bukan hanya misi yang membuatnya bertahan. Vembri juga menekankan suasana kerja yang ia rasakan selama berada di JRS Indonesia.

Baginya, relasi antaranggota tim tidak dibangun atas dasar siapa yang lebih senior atau siapa yang lebih superior. Sebaliknya, ada semangat untuk saling mengisi dan belajar.

Kerendahan hati, keterbukaan dalam berdiskusi, kebersamaan, serta komitmen setiap individu menjadi nilai-nilai yang membuatnya terus percaya pada pekerjaan kemanusiaan. Pengalaman bersama para pengungsi dan rekan-rekan kerja juga perlahan mengubah cara pandangnya mengenai arti sebuah kontribusi.

Ia menyadari bahwa kerja kemanusiaan bukanlah pekerjaan yang hanya dimiliki oleh mereka yang turun langsung ke lapangan. Ada banyak peran yang mungkin terlihat kecil, tetapi tanpa peran tersebut, sebuah kerja besar tidak akan berjalan.

Pernah dalam sebuah orientasi, Vembri mendengar sebuah refleksi dari Romo Andreas Soegijopranoto SJ yang kemudian melekat dalam pikirannya.

Sekecil apa pun peran kita, kalau kita memang memiliki niat baik, pasti akan mendukung dalam keberhasilan besar.

Perumpamaannya sederhana, seperti sebuah mobil yang memiliki empat baut pada rodanya. Jika satu saja terlepas, perjalanan kendaraan tersebut dapat terganggu, bahkan membahayakan.

Mungkin kita adalah salah satu dari empat baut kecil itu,” kenang Vembri.

Bagi Vembri, kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa tidak semua kontribusi harus terlihat besar. Tidak semua orang harus berdiri paling depan. Yang penting adalah memastikan bahwa bagian yang dipercayakan kepada kita dilakukan dengan sebaik mungkin.

Satu hal lain yang rupanya semakin menguatkannya untuk terus bertahan di isu ini adalah pesan dari sang ayah. Pesan sederhana tentang bagaimana ia seharusnya bekerja menjadi prinsip yang terus ia bawa hingga hari ini: bekerja dengan baik, tetap rendah hati, dan terutama, menjaga kejujuran.

Bapak saya pernah berpesan dua hal, yaitu apa pun jabatan kamu nantinya, bekerjalah dengan baik dan rendah hati. Kamu adalah lulusan akuntansi. Di mana saja nantinya kamu bekerja, terutama di bidang keuangan, kamu harus jujur. Bekerja di keuangan, godaannya pasti akan macam-macam. Maka kamu harus jujur,” pungkasnya.