Catatan di Penghujung Tahun: Respons JRS Indonesia atas Bencana Ekologis di Sumatera

01 Januari 2026|Martinus Dam Febrianto, SJ

Saya tidak pernah merencanakan perjalanan ini. Ketika meninggalkan Yogyakarta pada 22 November 2025, agenda saya sudah tersusun rapi: mengikuti pertemuan Perencanaan Strategis JRS Asia Pasifik di Hua Hin, Thailand, melanjutkan evaluasi program di Jakarta dan Bogor, beraudiensi dengan para uskup, lalu kembali ke kantor nasional di Yogyakarta pada 13 Desember untuk menutup buku tahun 2025 dan menyusun rencana 2026.

Namun bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengubah seluruh rencana itu.

Tulisan ini adalah catatan perjalanan—sebuah perjalanan yang tidak sepenuhnya direncanakan—menyusuri wilayah-wilayah yang terluka oleh banjir besar di penghujung tahun.

Rencana yang Berubah di Tengah Jalan

Setelah evaluasi program di Bogor, saya mendampingi tim JRS beraudiensi dengan Mgr. Paskalis Bruno Syukur di Keuskupan Bogor serta Rm. Edi Mulyono SJ yang mewakili Uskup Agung Jakarta. Di tengah rangkaian pertemuan itu, kabar tentang banjir besar di Sumatera terus berdatangan.

Saya berkomunikasi melalui WA call dengan Vikjen Keuskupan Sibolga dan Direktur Caritas-PSE Keuskupan Agung Medan (KAM). Awalnya kami merencanakan menuju Sibolga melalui Medan. Namun setelah koordinasi lebih lanjut di Catholic Center Medan pada 11 Desember, kami menangkap kebutuhan yang mendesak di wilayah Keuskupan Agung Medan—wilayah yang justru belum banyak tersentuh bantuan.

Kami pun mengubah haluan.

Sementara itu, tim JRS Banda Aceh sudah lebih dahulu bergerak di Peusangan, Bireuen. Kami mengaktivasi dana ECHO (Uni Eropa) melalui konsorsium bersama Danish Refugee Council (DRC). Proposal respons darurat senilai 3 miliar rupiah kami kirimkan untuk membentuk tiga tim di Aceh dan Sumatera Utara. Informasi respons kami sebarkan melalui media sosial, dan donasi mulai berdatangan.

Pada 10 Desember 2025, saya dan satu staf nasional terbang ke Medan.

Langkat: Ketika Rumah Tinggal Lantai

Bersama tim Caritas KAM, kami melakukan asesmen dan distribusi bantuan di Kabupaten Langkat: Tanjung Pura, Pangkalan Brandan, Besitang. Di Desa Sukaramai, Kecamatan Besitang, saya menyaksikan rumah-rumah dan fasilitas umum ambruk atau hanyut terbawa banjir berlumpur.

Di sana kami bertemu Bu Sinaga.

Ia duduk di rumahnya yang kini hanya menyisakan lantai dan tembok rendah. Rumah itu adalah bantuan pemerintah setelah banjir besar tahun 2006. Kali ini, banjir datang lebih besar dan menghanyutkan segalanya.

Sambil memandang tetangganya yang sibuk membersihkan lumpur hingga ke atap rumah, ia berkata,
“Buat saya mudah, karena tidak perlu membersihkan lumpur. Tapi menyakitkan, karena rumahnya hilang terseret banjir.”

Saya terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi menghunjam.

Sepanjang Jalan yang Berantakan

Perjalanan darat dari Medan menuju Lhokseumawe memakan waktu sekitar 10 jam. Sepanjang jalan, terutama di Aceh Tamiang, kami menyaksikan kerusakan yang luar biasa. Lumpur masih tebal. Bangunan rusak. Warga berdiri di pinggir jalan.

“Ini seluruh kota berantakan,” komentar sopir kami.

Malam hari, listrik belum menyala. Ada warga yang menyalakan api kecil dan berkumpul di sekitarnya. Pemandangannya seperti dalam film-film distopia. Sebulan setelah banjir, beberapa wilayah masih gelap gulita.

Pada 23 Desember, saya ikut membantu distribusi 1.500 paket bantuan dari Caritas KAM dan Keuskupan Agung Medan di Kecamatan Bandar Pusaka. Seorang ibu bercerita sambil menangis, “Rumah saya di kampung di bawah sana hanyut, juga lembu dan barang-barang lain, tidak ada sisa.”

Sopir kami yang kehausan bertanya di warung, “Ada yang dingin, Bu?”
Pemilik warung menjawab, “Abang mengejek kita ya. Sejak banjir belum ada kami dapat listrik.”

Sudah sebulan.

Di Desa Pematang Durian, saya mendengar bahwa tinggi air saat banjir mencapai 14 meter. Saya sulit membayangkannya. Skala kehancurannya begitu luas, bahkan melampaui banyak bencana yang pernah saya saksikan.

Natal dalam Kesederhanaan dan Aksi Nyata

Di tengah respons darurat, saya juga diminta membantu pelayanan Natal. Karena kekurangan imam, saya diminta membantu di Lhokseumawe dan Takengon.

Perjalanan ke Takengon menjadi pengalaman tersendiri: dua jam sepeda motor, berjalan kaki karena jalan rusak berat, naik ojek sebentar, berjalan lagi, lalu melanjutkan perjalanan motor hingga total sekitar empat jam.

Di Takengon dan Bener Meriah, listrik sempat mati hampir dua minggu. Bahan bakar dan beras habis. Warga hanya bisa mengandalkan distribusi udara menggunakan Hercules dari Medan.

Misa Malam Natal dan Hari Natal berjalan dengan baik, tetapi tanpa kemeriahan. Tidak ada pohon Natal besar. Tidak ada pesta setelah misa pagi. Umat memilih menggantinya dengan aksi Natal. Bersama komunitas vihara Buddha yang bertetangga dengan gereja, mereka mendistribusikan beras kepada warga sekitar pada 25 Desember 2025.

Dalam suasana prihatin itu, saya melihat terang Natal hadir dalam bentuk solidaritas.

Tiga Tim, Satu Komitmen

Menjelang akhir Desember, kami membentuk tiga tim respons: satu berbasis di Medan, satu di Bireuen, dan satu lagi di Lhokseumawe yang berkolaborasi dengan aktivis dan umat stasi setempat. Romo Suyadi turut membantu koordinasi lapangan setelah asistensi Natal.

Respons darurat ini masih akan berlangsung. Hingga akhir Desember, donasi yang terkumpul mencapai Rp 2.943.529.033—hampir sama dengan anggaran proposal awal kami.

Namun saya sadar, angka-angka itu tetap terasa kecil jika dibandingkan dengan luasnya dampak bencana ekologis ini.

Karya Kecil di Tengah Luka Besar

Perjalanan ini menutup tahun 2025 dengan cara yang tidak saya duga. Saya berangkat dengan agenda rapat dan perencanaan, tetapi justru menemukan diri saya berdiri di atas lumpur, menyaksikan rumah-rumah yang hilang, mendengarkan cerita kehilangan, dan merayakan Natal dalam kesederhanaan yang sangat mendalam.

Respons JRS Indonesia mungkin hanyalah karya kecil di tengah luka besar. Namun saya percaya, kehadiran—meski terbatas—tetap berarti.

Di tengah kehancuran, saya menyaksikan solidaritas, daya tahan, dan harapan yang tidak mudah padam. Dan di sanalah, saya menemukan alasan untuk terus melangkah.