Berjalan Bersama di Tengah Bencana

04 Januari 2026|Dhian Ekasari

SAAT pertama kali mendengar kabar banjir besar menerjang Aceh pada 26 November 2025, saya sedang menghadiri pertemuan atas undangan MER-C di Banda Aceh. Di waktu yang hampir bersamaan, listrik padam di hampir seluruh wilayah Aceh. Hanya sebagian teman-teman yang masih bisa mengakses internet.

Dhian bersama para pengungsi perempuan di Kec. Samalanga, Kab. Bireuen, Aceh.

Perasaan itu kembali datang. Saya merasakan emosi yang sama seperti tahun 2004, saat Tsunami Aceh meluluhlantakkan segalanya. Berita tentang besarnya banjir dan luasnya wilayah terdampak terus berdatangan. Sementara itu, Banda Aceh tetap gelap, terputus dari listrik dan jaringan komunikasi.

Malam-malam saya habiskan berkeliling kota sambil mencari warung kopi untuk mengisi daya ponsel dan memantau situasi. Panic buying mulai terjadi, antrean BBM mengular, dan beberapa kebutuhan pokok menghilang dari toko-toko kelontong. Tanpa listrik, banyak warga bahkan kesulitan mendapatkan air bersih untuk mandi.

Dorongan bagi JRS Aceh untuk merespons sudah sangat kuat. Namun, tim di Aceh masih menghadapi ketidakpastian akses. Informasi yang kami terima menyebutkan jembatan-jembatan penghubung terputus dan ruas jalan utama terendam banjir.

Menuju Jantung Bencana

Pada 2 Desember 2025, setelah semua persiapan dan administrasi selesai, tim JRS Aceh melalui aktivitas Crisis Modifier proyek Protecting Refugee in Asia (PRiA) akhirnya berangkat untuk memulai rangkaian proses respons yang diawali dengan need assessment. Akses menuju Pidie Jaya telah terbuka, namun kami memilih melangkah lebih jauh—menuju salah satu pusat kemarahan alam: Sungai Peusangan.

Krueng Peusangan, sungai besar yang berhulu di Danau Laut Tawar, dataran tinggi Gayo dan berakhir di Pantai Timur, Lhokseumawe, akhirnya menyerah. Debit air yang luar biasa besar tak lagi mampu dibendung. Alirannya melewati Bener Meriah, Bireuen, Aceh Utara hingga Lhokseumawe.

Dalam perjalanan, kami menyaksikan empat jembatan penghubung putus. Satu jembatan terbelah dua. Tiga lainnya runtuh di bagian penyangga tak mampu menahan derasnya arus dan longsornya daerah aliran sungai.

Semua orang telah mengetahui penyebab banjir besar ini. Namun tak semua orang membayangkan bagaimana dampak dari meluapnya debit air yang sangat besar ini. Sungai Peusangan telah menuturkan secara nyata mengenai kerusakan lingkungan yang selama ini diabaikan.

Kehilangan, dan Kekuatan yang Bertahan

Banjir melumpuhkan segalanya. Seluruh warga yang terdampak tak lagi memiliki harta benda yang tersisa. Rumah, toko, sawah, dan ternak hilang atau tertimbun lumpur dan terbawa air. Pasar tak lagi berfungsi, puskesmas kehabisan obat-obatan, dan bahkan sebagian aparat desa turut menjadi korban.

Masyarakat terlalu lelah bahkan untuk sekadar memasak makanan mereka sendiri. Beragam ekspresi saya temui dalam penemanan bersama mereka, “Bagaimana kami hidup di masa depan ketika semua yang kami miliki telah hilang.”

Namun di tengah kehancuran itu, saya juga menyaksikan sesuatu yang jauh lebih kuat dari bencana. Warga saling menjaga. Mereka dengan tulus berbagi bantuan yang diterima kepada tetangga yang belum mendapatkan apa pun. Solidaritas tumbuh di antara lumpur dan kehilangan.

Dalam doa, saya menanam harapan – semoga bencana yang menimpa Aceh kali ini kembali menumbuhkan kekuatan, sehingga Aceh mampu bangkit lagi untuk kedua kalinya.

Program Tanggap Darurat Sumatra

Sebagai bagian dari respons kemanusiaan terhadap banjir besar di Sumatera, Jesuit Refugee Service (JRS) melakukan respons tanggap darurat kepada masyarakat terdampak, utamanya di Aceh dan Sumatera Utara. Tak hanya mereka yang terpaksa berpindah lintas negara, JRS juga memiliki mandat untuk mereka yang terpaksa berpindah di dalam negeri karena situasi sosial dan juga bencana alam serta ekologis atau masalah lingkungan hidup seperti di Sumatera saat ini.

Respons ini difokuskan pada pelayanan untuk pemenuhan kebutuhan dasar yang paling mendesak, sekaligus penemanan untuk menghadirkan ruang aman dan bermartabat bagi saudara-saudari kita yang kehilangan rumah, mata pencaharian, dan rasa aman akibat bencana.

Dalam pelaksanaannya, JRS bekerja melalui tim yang sudah ada di Banda Aceh dalam empat tahun terakhir dan program khusus di lokasi-lokasi baru untuk tanggap darurat baik di Aceh maupun Sumatera Utara, mengingat skala bencana dan kebutuhan yang besar.

JRS berkolaborasi dengan lembaga-lembaga kemanusiaan di level lokal dan nasional, lembaga-lembaga gereja setempat, para relawan dan otoritas desa setempat, termasuk para warga lokal. Pendekatan untuk langsung berkolaborasi dengan warga secara langsung dan komunitas lokal memungkinkan respons yang lebih cepat, relevan, dan sensitif terhadap kebutuhan nyata di lapangan.

Sejauh ini, di Aceh, JRS telah mendistribusikan bantuan dasar berupa bahan-bahan makanan seperti beras, telur, sarden, biskuit, air mineral, pampers, dan bantuan esensial lainnya di 8 desa dan dua kabupaten di Aceh dengan total warga terdampak di area tersebut sebanyak lebih dari 1,800 KK atau 5,500 jiwa. Di antara respons tersebut, JRS melakukan respons intens melalui program Crisis Modifier PRiA untuk 516 orang melalui bantuan bahan makanan dan dukungan psikologis awal di Desa Rambong Payong, Bireuen.

 

Respons awal ini dilanjutkan dengan pelayanan darurat lanjutan yg mencakup Provinsi Aceh (dengan tim berbasis di Bireuen dan Lhokseumawe) dan Provinsi Sumatera Utara (dengan tim berbasis di Medan). Respons tanggap darurat JRS di Sumatera Utara dilakukan melalui koordinasi dengan Caritas Keuskupan Agung Medan.

Respons ini hanya dapat terjadi dengan bantuan dari para donor institusi melalui program secara khusus dan utamanya dari donasi-donasi institusi, jaringan Jesuit dan gereja, serta para individu yang secara langsung menyalurkan melalui akun JRS.

JRS Indonesia memastikan bahwa bantuan yang diberikan dilakukan dengan prinsip-prinsip standar kemanusiaan dan akuntabilitas. Segala bentuk feedback dan keluhan terhadap respons JRS dapat disalurkan melalui kanal-kanal umpan balik yang tersedia.