Belajar untuk Melayani – di Lapangan Bulu Tangkis dan dalam Mendampingi Pencari Suaka serta Pengungsi
19 April 2026|Rose Campion
Suatu sore di bulan Januari, teman-teman baru saya, Narges, Wali, dan Norullah mengajari saya bermain bulu tangkis. Kami bertemu di lapangan di Cisarua (Jawa Barat), di mana Norullah menunjukkan cara melakukan servis dengan benar, dan Wali menyelamatkan semua kok yang saya lewatkan. Saya dan Narges bercanda memperdebatkan skor dan apakah pukulan kami masuk ke dalam garis. Kami harus beberapa kali berhenti karena tertawa, terutama saat saya mengayun raket dengan penuh semangat tetapi hanya mengenai udara. Para pemain lain di lapangan mungkin bertanya-tanya, “Mengapa tiga pengungsi asal Afghanistan menghabiskan sore mereka untuk mengajari olahraga nasional Indonesia kepada seseorang dari Amerika Serikat?”
Tapi kami tidak memperhatikan karena terlalu sibuk tertawa melihat pukulan saya yang kembali meleset. Pada akhirnya, teman-teman ini mengajari saya jauh lebih dari sekadar bulu tangkis. Melalui berbagi pengalaman dan mimpi mereka tentang masa depan, saya belajar tentang situasi yang dialami banyak pencari suaka dan pengungsi (asylum seeker and refugee – ASR) di Indonesia.
Sebagai mahasiswa doktoral di bidang Studi Migrasi, saya telah membaca tentang pengungsian paksa di luar Eropa dalam berbagai seminar, tetapi saya ingin melihat bagaimana teori-teori tersebut berjalan dalam praktik. Saya kemudian terhubung dengan Direktur JRS Indonesia, Pater Martinus Dam Febrianto, S.J., yang dengan ramah mengundang saya untuk menjalani magang selama tiga bulan bersama tim di Jakarta dan Bogor.
Selama berada di Indonesia, saya mendukung kerja organisasi dalam menyalurkan bantuan keuangan serta program kesehatan mental, sekaligus berkontribusi dalam advokasi serta pemantauan dan evaluasi. Dalam periode ini, saya mengunjungi sejumlah organisasi yang dipimpin oleh pengungsi, mewawancarai ASR untuk proyek penelitian di Universitas Sanata Dharma, memimpin klub diskusi bahasa Inggris, mempresentasikan penelitian saya di PRAKSIS di Jakarta, menghadiri berbagai acara advokasi, serta mengikuti evaluasi tahunan dan orientasi staf JRS.

Di tengah jadwal yang padat ini, saya justru menemukan bahwa momen paling bermakna adalah saat-saat kebersamaan dengan staf JRS dan mereka yang dilayani, baik di dalam mobil menuju sebuah acara, di kantor JRS, saat berbagi makanan, maupun saat bermain (dan kalah dalam) bulu tangkis bersama teman-teman.
Saya ingin membagikan tiga dari sekian banyak pelajaran yang saya dapatkan selama bersama JRS Indonesia.
1. Pencari suaka dan pengungsi di Indonesia mungkin berada dalam ketidakpastian, tetapi mereka tidak tanpa daya.
Tanpa hak untuk bekerja, melanjutkan pendidikan menengah dan tinggi, atau mengakses layanan keuangan dan sistem kesehatan publik, para ASR menghadapi lingkungan yang penuh tantangan di Indonesia.
Lebih dari itu, jumlah orang yang ditempatkan ke negara ketiga setiap tahunnya terus menurun dan hanya mencakup sebagian kecil dari kebutuhan yang ada. Situasi ini membuat ribuan orang terjebak dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun. Dalam kasus teman-teman bulu tangkis saya, dua di antaranya telah berada di Indonesia selama 12 tahun sambil menunggu penempatan kembali.
Meski situasi ini sering terasa buntu dan tanpa harapan, saya juga terinspirasi melihat berbagai cara orang mengambil tindakan bagi diri mereka sendiri dan komunitasnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pusat pembelajaran dan inisiatif yang dipimpin oleh pengungsi di Cisarua dan Jakarta.
Organisasi-organisasi ini menyediakan berbagai layanan, mulai dari pendidikan K-12 (setara SD-SMA), kelas bahasa Inggris untuk orang dewasa, Model United Nations, hingga pelatihan profesional seperti menjahit, kerajinan tangan, dan tata rambut. Di tengah ketiadaan dukungan dari negara, para pemimpin dalam komunitas ASR mengisi kekosongan dengan saling membantu dan bersolidaritas.
Sebagian lainnya bahkan mulai menyuarakan keberadaan mereka di tingkat internasional. Seorang pengungsi perempuan yang saya temui sedang mengajukan beasiswa ke luar negeri untuk belajar ilmu politik di universitas. Yang lain menuliskan kisah hidupnya di Indonesia untuk diterbitkan sebagai memoar. Ada pula yang berupaya memperkuat suara pengungsi di tingkat regional dan global melalui advokasi di organisasi internasional dan badan-badan PBB.
Ketiadaan hak tidak berarti ketiadaan daya. Meskipun hak-hak dasar mereka dibatasi, para ASR di Indonesia tetap memiliki kekuatan untuk membangun kehidupan yang bermartabat bagi diri mereka, keluarga, dan komunitasnya.
2. Di tengah tantangan pendanaan, JRS tetap setia pada komitmen pendampingannya.
Pemotongan besar-besaran bantuan internasional di bawah Presiden Trump pada tahun 2025 berdampak signifikan terhadap dukungan kemanusiaan bagi ASR di Indonesia. Saya melihat bagaimana kebijakan di Washington DC berdampak langsung pada berkurangnya makanan bagi keluarga, terpangkasnya dukungan untuk intervensi medis yang menyelamatkan nyawa, hingga tutupnya tempat-tempat belajar untuk pengungsi di Jawa. Namun, ketika situasi keuangan memburuk, saya juga menyaksikan bagaimana komitmen JRS Indonesia untuk mendampingi justru semakin kuat.
Menjelang akhir tahun—ketika dukungan finansial dari berbagai organisasi lokal telah lama berhenti—staf JRS tetap mengunjungi mereka yang dilayani, meluangkan waktu bersama mereka, dan mendengarkan keluh kesah mereka. Tindakan-tindakan ini, meskipun tampak sederhana, diterima dengan hangat oleh orang-orang yang saya temui.
Terlebih dalam tahun ketika banyak ASR di seluruh dunia merasa dilupakan oleh para pengambil kebijakan, tindakan pendampingan ini menjadi semakin bermakna.
3. Lingkungan yang suportif sangat penting agar para staf dapat menjalankan pekerjaan yang penuh tantangan ini.
Meskipun saya bersyukur dapat menghabiskan waktu bersama mereka yang dilayani JRS, tidak selalu mudah untuk mendengarkan cerita yang mereka bagikan. Pengalaman kekerasan, penindasan, dan pengabaian, serta masa-masa penuh kerinduan dan kesedihan mendalam, menjadi bagian dari banyak kisah yang saya dengar. Sulit untuk tidak bereaksi secara empatik—air mata sering kali mengalir di kedua sisi.
Untuk dapat mendampingi mereka yang terpinggirkan dalam perjalanan menuju keselamatan, para pekerja di sektor ini membutuhkan jaringan dukungan yang kuat. JRS Indonesia telah membangun lingkungan tim yang suportif, dan saya sangat bersyukur karena dilibatkan di dalamnya.

Banyak rekan kerja yang menyediakan telinga untuk mendengarkan di saat-saat sulit, dan saya pun berusaha melakukan hal yang sama bagi mereka. Momen-momen penuh kehangatan dan pengertian ini sering kali diikuti oleh kebersamaan yang menyenangkan—berbagi kopi dan makanan, berjalan di alam, dan tentu saja—bermain bulu tangkis lagi.
Tanggung jawab untuk mendampingi ASR dalam situasi yang penuh tantangan terlalu berat untuk dipikul sendirian. Di JRS Indonesia, saya belajar bagaimana sebuah tim dapat berbagi beban ini dan melangkah lebih jauh, bersama-sama.
Merupakan sebuah kehormatan untuk diterima dengan begitu hangat dan didukung sebagai bagian dari tim ini. Saya belajar banyak, baik secara profesional maupun pribadi, selama saya bersama JRS Indonesia. Saya berharap dapat berkontribusi, meskipun kecil, dalam misi mereka untuk mendampingi, mengadvokasi, dan melayani.