Berbagi Pengalaman Visit Singkat di Ende, Flores

31 Oktober 2026|Martinus Dam Febrianto, SJ

*Catatan perjalanan Martinus Dam Febrianto, SJ

SATU BULAN setelah JRS Indonesia hadir di Flores—dengan basis di kota Ende—untuk respons darurat dampak gempa bumi yang terjadi pada pertengahan Agustus lalu, saya memutuskan untuk datang berkunjung di awal Oktober ini. Saya menjumpai tim kecil JRS Ende yang kami bentuk, bergabung dalam distribusi bantuan di lapangan, dan berjumpa dengan jejaring lokal, terutama Gereja setempat dan komunitas-komunitas yang sejauh ini kami telah bekerja sama atau berkoordinasi dalam penanganan darurat pasca gempa.

Kunjungan ini singkat saja. Saya datang di 1 Oktober dan kembali ke Jakarta 6 Oktober. Saya terbang dari Jakarta, transit di Kupang, kemudian berlanjut ke Ende. Di Bandara H. Hasan Aroeboesman, saya dijemput Ning dan Grace, dua staf JRS, ditemani Pater Yosef, SVD dan Pater Hendro, SVD. Pater Yosef memimpin JPIC SVD Ende dan mentor untuk JPIC Paroki Onekore, sementara Pater Hendro, karena sedang menantikan penugasan baru, diminta oleh Pater Provinsial untuk menjadi pendamping JRS Indonesia di Ende.

Pater Eman Embu, SVD, menampakkan hospitalitas yang luar biasa. Meskipun ada kamar di Pastoran St. Yosef Onekore—dan Pastor Paroki, Pater Pian, SVD, mempersilakan saya menginap di sana—saya diminta tinggal di Rumah Provinsialat SVD Ende. Katanya demi kenyamanan “Romo Direktur” JRS Indonesia (yang mereka bayangkan: orangnya tentu sudah agak berumur sehingga baik kalau mendapat kamar yang lebih nyaman). Kamar tamu Provinsialat SVD Ende sangat nyaman lagi luas, dengan ruang depan untuk kerja dan terima tamu, ruang tidur, kamar mandi dalam dan ruang untuk menjemur pakaian. Luar biasa!

Dua staf kami, Mbak Ning dan Grace, sedari akhir Agustus tetap tinggal di Kompleks Pastoran Paroki Onekore. Ketika mereka izin untuk tinggal di rumah kos saja supaya tidak merepotkan para pastor dan rumah tangga pastoran, Pater Pian melarang. Kiranya itu bentuk penghargaan mereka terhadap JRS (dan Jesuit) yang datang ke Flores untuk bersolider dengan kesulitan yang tengah dialami banyak umat dan masyarakat di Flores.

Saya bersyukur akan kunjungan ini. Sore hari saya bersama tim berbincang-bincang tentang pengalaman bekerja sebulan ini: Gereja setempat (baik pihak keuskupan/paroki maupun komunitas SVD) yang ramah dan sangat akomodatif, anak-anak OMK yang bersemangat menjadi relawan. Mereka menjadi relawan untuk JPIC Keuskupan maupun JPIC Paroki/SVD, JRS Indonesia, posko kelurahan Onekore, juga lembaga lain seperti PMI. Sementara koordinasi Pemerintah dirasa lemah, komunikasi dan koordinasi antar lembaga gereja terjalin baik untuk saling mengisi gap kebutuhan di lapangan.

Setelah beberapa waktu satu gudang/posko dengan JPIC paroki, kami diberikan ruangan di Kompleks Biara Santo Yosef, di sebelah Paroki Katedral, untuk kami pergunakan sebagai gudang JRS Indonesia. Gudang ini cukup luas dengan empat ruangan yang bisa dipergunakan.

Malam pertama saya di Ende, ada pesta sederhana pesta imamat beberapa anggota Komunitas Santo Yosef (satu kompleks dengan Rumah Provinsialat). Kami dapat saling berkenalan dan berbincang-bincang, terutama terkait dampak gempa bumi bagi masyarakat Flores, termasuk dampaknya terhadap anak-anak sekolah. Br. Kris, SVD, Kepala Sekolah SMA Syuradikara, Ende, menyampaikan ada 40 anak yang keluarganya sangat terdampak gempa. Anak-anak yang tinggal di asrama ini membutuhkan bantuan. Sekolah mereka tetap harus berlanjut, sementara keluarga di kampung halaman kehilangan rumah, entah karena roboh atau mengalami rusak berat.

Hari kedua di Ende, saya berkunjung ke SMA Syuradikara, untuk konselebrasi Misa Jumat Pertama yang dihadiri sekitar 1.000 siswa (dari sekitar 1.200 siswa). Saat perkenalan, saya lupa menyebutkan bahwa saya dari Jesuit Refugee Service Indonesia. Malah, saya promosi Universitas Sanata Dharma kepada anak-anak ini.

Sore hari kami berkunjung ke PSE/JPIC Keuskupan Agung Ende dan berjumpa dengan Romo Perno sebagai direktur di situ. Kompleks PSE menjadi tempat transit bagi barang bantuan yang dikirim Caritas Indonesia via Surabaya, karena pelayaran kapal dari Surabaya atau Kupang saat ini hanya mendarat di Ende. PSE Keuskupan Agung Ende kemudian menyalurkan barang bantuan ini ke Keuskupan Ruteng dan Maumere. Lembaga-lembaga atau komunitas-komunitas yang memberikan respons darurat perlu menjalin komunikasi, koordinasi dan kerja sama demi pelayanan yang lebih baik. Wilayah terdampak gempa tersebar di banyak lokasi di Flores dengan kebutuhan yang bisa jadi berbeda. Saling berbagi hasil asesmen, misalnya, akan memudahkan distribusi bantuan yang tepat sasaran.

Malam hari kami diterima Bapak Uskup Paulus Budi Kleden, SVD, di kediamannya di Wisma Keuskupan di Ndona. Untuk tim JRS Indonesia, ini adalah audiensi yang kedua. Kami membagikan apa yang sudah dilakukan sebulan ini, sementara Bapak Uskup bercerita mengenai dampak gempa bumi di banyak wilayah yang sudah ia kunjungi, disertai pengalaman-pengalaman “menarik” beberapa romo dan umat saat gempa terjadi di pagi di hari Sabtu, 15 September. Ada kisah seorang pastor yang sedang memimpin misa. Baru saja beranjak dari tempat duduk di belakang altar, gempa terjadi, dari atas ada bongkahan tembok yang jatuh meluncur menghancurkan kursi (bahkan lantai altar) yang baru saja diduduki. Pastor ini selamat karena waktu itu sudah waktunya membacakan doa penutup. Ada banyak cerita lain.

Hari ketiga di Ende, saya ikut distribusi bantuan ke Paroki Wolosambi, ke asrama Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Santo Joanne Baptista Wolosambi yang berlokasi di Sawu, Mauponggo, Kabupaten Nagekeo. Kami mendistribusikan bantuan sembako, selimut, dan perlengkapan sekolah ke para siswa (penghuni asrama). Perjalanan naik truk memakan waktu sekitar 3 jam. Bukan karena jalan yang jelek, namun karena jalan yang terus meliuk-liuk sehingga mobil tidak dapat melaju dengan kencang. Selain berjumpa dengan kepala sekolah, para guru, para suster, dan para siswa, saya sempat pula mengunjungi gereja paroki yang mengalami kerusakan akibat gempa. Untuk keamaman, sampai saat ini, umat merayakan misa tidak di dalam gedung gereja, namun di sisi sebelah kanan gedung gereja.

Malam hari, sepulang dari distribusi ke Wolosambi, saya mengunjungi Serambi Soekarno di kompleks biara SVD St. Yosef, tempat yang sering dikunjungi Bung Karno di masa pembuangan di Ende pada 1934 sampai dengan 1938. Baru esok paginya saya ke lokasi bersejarah ini bersama Br. Simpli, SVD, yang menjelaskan bagaimana Serambi Bung Karno menjadi seperti sekarang. Di tempat inilah, Soekarno muda menikmati buku-buku di perpustakaan (satu-satunya perpustakaan di Ende saat itu), berjumpa dan berbincang-bincang dengan para pater SVD, salah satunya adalah Pater Bouma, SVD, yang saat itu adalah Regional Superior SVD untuk Sunda Kecil. Pater Bouma adalah penerjemah pertama Injil ke dalam Bahasa Indonesia. Sangat mungkin Bung Karno membaca Ensiklik Rerum Novarum di sini dan, tentu saja dari berbagai sumber wawasan kebangsaan dan internasionalitas yang telah ia miliki, mendapatkan inspirasi dalam mengimajinasikan Indonesia dan merumuskan sila-sila dalam Pancasila.

Pagi hari keempat, saat sarapan setelah ibadat pagi dan misa harian, saya berbincang-bincang dengan Bruder Tomas, Rektor komunitas. Beliau mengatakan, karena sumber dana dari Eropa sekarang tidak ada lagi, biaya formasi para frater kini menjadi tantangan. Selama masa formasi hingga kaul kekal, keluarga diminta kut menanggung formasi anak-anak mereka yang menjadi skolastik SVD. Ada yang membayar secara penuh atau bahkan lebih, namun banyak pula yang tidak membayar penuh, tergantung situasi ekonomi orang tua. Saya tidak heran dengan praktik demikian dalam formasi imam diosesan. Akan tetapi, untuk formasi imam religious/biarawan, saya tidak membayangkan. “Bagaimana lagi,” kata Bruder Rektor, itu harus dilakukan mengingat keuangan Provinsi untuk formasi anggota-anggontanya. Para frater SVD masih diharapkan mendapatkan masing-masing lima donatur untuk formasi mereka.

Hari keempat dan kelima, saya berkesempatan mengikuti rapat rencana pembangunan hunian sementara, proyek yang akan dilakukan JPIC SVD Ende. Pater Eman merasa perlu mengundang aktivis JPIC dan JRS untuk urun rembug terkait rencana pembangunan hunian bagi umat yang terdampak. JRS Indonesia sendiri tidak akan masuk ke project hunian, namun akan lebih fokus untuk menanggapi kebutuhan anak-anak sekolah.

Setelah rapat yang kedua di Senin sore, beberapa aktivis mengajak saya untuk beramah tamah karena itu adalah malam terakhir saya di Ende. Mereka dengan sabar menanti kami (saya dan Pater Eman) selesai makan bersama di komunitas terlebih dahulu.

Selasa pagi, 5 Oktober 2026, saya meninggalkan Ende melalui bandara, diantar oleh Pater Yosef, SVD dan fr. Ertus, SVD, selain oleh kedua staf JRS Indonesia. Meninggalkan Provinsialat SVD, kami mampir dulu ke pastoran Paroki Onekore, untuk berpamitan dengan Pater Pian, SVD.

Hingga 15 Oktober 2026, JRS Indonesia telah menyalurkan bantuan kepada 3.835 siswa dari 52 sekolah dan 2 asrama yang tersebar di wilayah Kabupaten Ende dan Nagekeo. Bantuan yang diberikan berupa paket buku dan alat tulis bagi setiap siswa, juga paket peralatan penunjang kelas dan terpal untuk sekolah-sekolah. Bagi TK dan Kelompok Bermain JRS memberikan alat peraga dan permainan edukasi sesuai kebutuhan usia siswa. Pada Minggu, 11 Oktober lalu, JRS menerima donasi berupa buku-buku bacaan dari beberapa donatur perorangan yang langsung mengirim dari Jakarta ke Ende. Buku-buku langsung disortir sesuai usia dan dibagikan ke 8 TK/KB, 9 SD, 2 SMP, dan 1 SMA di wilayah Boanio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo pada 15 Oktober.

Ke depan, JRS membangun kerjasama dengan Gramedia Indonesia untuk pengadaan buku-buku bacaan dengan harapan semakin banyak sekolah bisa mendapatkan donasi buku bacaan yang berkualitas untuk meningkatkan minat baca anak-anak. JRS juga bekerjasama dengan WVI dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende akan menyelenggarakan Psychosocial Support Training bagi perwakilan guru dari sekolah-sekolah di Kabupaten Ende, Nagekeo, dan Ngada. Melalui training ini, diharapkan para guru memiliki bekal keterampilan yang cukup untuk mendampingi pemulihan psikososial siswa di masa pasca gempa atau saat terjadi bencana di kemudian hari.

Selain bantuan ke sekolah, di masa tanggap darurat lalu JRS juga menyaluran bantuan terpal dan selimut kepada 520 KK dengan total 1.998 jiwa di 21 desa dari 7 kecamatan di Kabupaten Ende dan Nagekeo. Distribusi bantuan selama masa tanggap darurat merupakan kolaborasi dengan tim JPIC SVD Ende yang memberikan bantuan sembako kepada warga.

Dalam beberapa waktu mendatang, fokus layanan JRS Indonesia di Flores masih kepada sekolah-sekolah yang terdampak gempa, Di bulan Oktober, tim JRS akan melakukan asesmen ke sekolah-sekolah di wilayah Kabupaten Ngada. Sejauh ini JRS telah menerima daftar rekomendasi 21 sekolah dari Posko PSE Keuskupan Agung Ende dan beberapa tambahan dari pater dan frater SVD dengan total 2.500 siswa. Sekolah-sekolah ini akan dikunjungi secara langsung oleh tim sebelum nantinya JRS melakukan intervensi.