Ketika Ruang Kelas Tak Lagi Aman, Belajar Tetap Harus Berjalan.

15 September 2026|Chrispina Maria Gracia

Gempa yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, pada 15 Agustus 2026 berdampak luas pada kegiatan belajar anak-anak di berbagai wilayah. Data sementara dari BNPB yang dikelola Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, mencatat 2.147 satuan pendidikan dan 261.602 siswa terdampak di tujuh kabupaten. Sebanyak 8.353 ruang kelas tercatat mengalami kerusakan, sementara kebutuhan ruang kelas darurat masih sangat besar.

Di Ende, situasi itu terlihat dari keseharian anak-anak dan keluarga yang berusaha agar kegiatan belajar tetap berjalan.

Di SD Kekadori, Desa Rapowawo, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, gempa datang di tengah proses renovasi sekolah yang sedang berlangsung. “Renovasinya sudah berjalan sekitar tujuh minggu ketika gempa terjadi. Yang sudah dibangun rusak lagi. Jadi untuk sementara, anak-anak belajar di posyandu yang juga menjadi tempat serbaguna untuk pertemuan warga,” tutur Grace, pekerja kemanusiaan JRS Indonesia di NTT.

Di SDK St. Philipus Tanajea. Desa Tiwerhea, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende, keretakan pada bangunan sekolah membuat kegiatan belajar dipindahkan ke halaman. Satu tenda dari pemerintah telah tiba, tetapi baru dapat menampung tiga kelas.

Ketika tim JRS tiba, para orang tua murid ternyata sudah lebih dulu bergerak.

Saat kami tiba, para orang tua sedang bergotong royong membuat tenda darurat dengan bahan seadanya. Awalnya mereka berencana membeli terpal secara swadaya atau meminjam dari kantor desa,” cerita Grace.

Enam terpal besar yang dibawa JRS hari itu pun langsung digunakan bersama warga untuk menambah ruang belajar sementara.

Terpal telah terpasang sebagai tenda ruang kelas. Foto kiriman Ibu Kepala Sekolah SDK St. Philipus Tanajea (09 Sept 2026)

Di tengah bangunan yang retak dan ruang belajar yang terbatas, ada sesuatu yang tetap kokoh: upaya orang tua, guru, dan masyarakat untuk memastikan anak-anak tetap bisa belajar.

JRS Indonesia hadir untuk berjalan bersama mereka—mendukung upaya yang telah tumbuh dari masyarakat sendiri, agar di tengah situasi darurat, anak-anak tetap memiliki ruang yang semakin aman untuk belajar, bertumbuh, dan berharap.

 

Hingga 13 September 2026,  JRS sudah mendistribusikan bantuan untuk 356 keluarga dengan 1.264 jiwa, 18 Sekolah dan 1 Kelompok Belajar, total 1.073 siswa. Bantuan terdistribusi ke 4 Kecamatan, 2 Kabupaten.