Menemukan Allah di Tengah Keterbatasan: Pengalaman Menjadi Relawan di Aceh Tamiang
05 Mei 2026|Sch. Bonifasius Junio Surya Aji, S.J.
BANJIR bandang yang melanda Aceh Tamiang pada akhir tahun 2025 meninggalkan luka yang tidak kecil bagi masyarakat. Selama satu bulan, saya mendapat kesempatan untuk terlibat sebagai relawan bersama tim Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia untuk mendampingi masyarakat yang terdampak bencana tersebut. Bersama empat anggota tim lainnya, kami mengunjungi berbagai desa di Kecamatan Bandar Pusaka dan Kecamatan Sekerak untuk melakukan asesmen kebutuhan, menyiapkan bantuan, serta mendistribusikan bantuan kepada warga.

Tim kami terdiri dari lima orang dengan peran yang berbeda, yaitu sebagai koordinator, keuangan, asesmen, kepala gudang, dan pengemudi. Melalui proses asesmen di berbagai desa, kami berusaha menentukan bantuan yang paling dibutuhkan oleh masyarakat. Bantuan yang kami salurkan berupa paket sembako, alat masak, serta perlengkapan sekolah bagi anak-anak yang terdampak banjir. Namun pengalaman menjadi relawan tidak hanya berbicara tentang logistik dan distribusi bantuan. Lebih dari itu, pengalaman ini mempertemukan saya dengan kisah-kisah manusia yang penuh perjuangan.
Salah satu kisah yang masih sangat membekas terjadi ketika kami menyalurkan bantuan di sebuah sekolah yang menjadi titik distribusi di Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka. Di sana kami mendengar cerita warga tentang hari-hari pertama setelah banjir bandang melanda desa mereka. Karena desa tersebut berada di dataran rendah, warga harus segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri. Hari-hari di pengungsian menjadi masa yang sangat sulit bagi mereka. Selama kurang lebih empat hari, warga terpaksa mengonsumsi air kotor yang disaring secara sederhana.
Air bersih, sesuatu yang sering kita anggap sebagai hal biasa dalam kehidupan sehari-hari, tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat langka dan berharga. Mereka baru bisa kembali ke rumah masing-masing setelah air mulai surut pada hari keempat. Mendengar cerita itu membuat saya semakin menyadari betapa rapuhnya kehidupan manusia ketika bencana datang. Hal-hal yang biasanya kita anggap sederhana ternyata dapat menjadi kebutuhan yang sangat sulit dipenuhi dalam situasi krisis.
Pengalaman lain yang sangat menyentuh saya terjadi di Desa Baling Karang, Kecamatan Sekerak. Ketika kami datang untuk mendistribusikan bantuan sembako, masyarakat menyambut kami dengan senyum dan keramahan yang tulus.
Dalam kondisi yang masih penuh keterbatasan, mereka tetap menunjukkan semangat kebersamaan yang kuat. Setelah distribusi bantuan selesai, kami justru diundang untuk makan siang bersama mereka.

Dari dapur umum sederhana yang mereka bangun secara swadaya, mereka menyiapkan hidangan untuk kami. Bahkan mereka menghidangkan daging kambing sebagai bagian dari santapan siang itu. Saya sungguh terkejut sekaligus tersentuh. Dalam situasi di mana kehidupan mereka sendiri belum sepenuhnya pulih, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik dari apa yang mereka miliki kepada orang lain. Saya melihat bahwa kemurahan hati tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi justru sering muncul dari hati yang tulus di tengah keterbatasan.
Perjumpaan itu menyalakan sesuatu dalam diri saya. Di tengah rumah-rumah yang rusak, jalan terputus, dan kehidupan yang masih berusaha bangkit, saya justru menemukan kekuatan manusia yang luar biasa, yaitu kemampuan untuk tetap berbagi, tetap tersenyum, dan tetap saling menguatkan. Selama satu bulan berada di Aceh Tamiang, saya merasakan bahwa pengalaman ini bukan hanya pengalaman kemanusiaan, tetapi juga pengalaman rohani yang mendalam. Di tengah penderitaan masyarakat, saya merasakan kehadiran Allah yang bekerja secara diam-diam melalui orang-orang yang saya jumpai.