Menemani di Tengah Ketidakpastian: Jejak Kemanusiaan di Pulau Galang
21 Januari 2026|Aulia Putri Salsabila

TEPAT pukul 09.00 pagi, di awal November 2025, kami menantikan sambungan telepon dari seorang imam Jesuit yang dikenal melalui karya-karya kemanusiaannya. Ia adalah salah satu imam yang pernah berkarya di Pulau Galang, melayani, menemani, dan membela para pengungsi pascaperang Vietnam beberapa dekade silam.
Dari perjumpaan inilah terangkai kisah tentang karya-karya kemanusiaan yang kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia hingga hari ini.
Adrianus Padmaseputra, SJ, lahir di Yogyakarta pada Juli 1944 dan menghabiskan masa kecilnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Sejak kecil, ia terbiasa berinteraksi dengan para imam Jesuit di Gereja Santa Theresia, Paroki Menteng. Dari perjumpaan-perjumpaan sederhana itulah tumbuh benih panggilan dalam dirinya untuk menjadi seorang misionaris. Pada usia 12 tahun, Adrianus kecil melangkahkan kaki ke Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Setelah menamatkan pendidikan di seminari tersebut, ia melanjutkan formasi panjang sebagai Imam Jesuit selama sebelas tahun.
Pada akhir tahun 1985, setelah sebelas tahun menjalani tahbisan dan berkarya di Jakarta, Romo Padmo—sapaan akrabnya—menerima penugasan dari Pimpinan Provinsial Serikat Yesus untuk melayani di Pulau Galang. Penugasan itu ia terima sebagai bagian dari ketaatan pada panggilan. Tanpa paksaan, ia berangkat dengan satu tujuan: berkarya dan hadir bagi sesama, khususnya umat Katolik yang hidup sebagai pengungsi di Pulau Galang.

“Saya sebagai Serikat Yesus diutus ke sana untuk mengisi apa yang disebut elemen rohani—elemen kemanusiaan rohani—yang pada waktu itu sering kali tidak tertangani,” ungkapnya dengan nada tegas namun bijak, Rabu (5/11).
Pelayanan rohani yang dijalankan Romo Padmo bersama sejumlah imam lainnya meliputi perayaan Ekaristi harian, doa-doa, serta pembinaan iman Katolik bagi anak-anak, remaja, dan kaum muda. Seluruh pelayanan tersebut dilakukan dalam bahasa Inggris dan Vietnam, menyesuaikan dengan latar belakang para pengungsi.
“Di Camp Pulau Galang ada dua Gereja Katolik, yaitu di camp side one dan side two. Side one ditempati oleh mereka yang baru tiba dan masih dalam berbagai proses, sementara side two dihuni oleh mereka yang sudah siap dan telah melengkapi berbagai persyaratan untuk berangkat ke negara ketiga. Di setiap camp ada gereja, dan di sanalah kami memberikan pendampingan rohani,” jelasnya.
Pelayanan yang dilakukan tidak berhenti pada aspek rohani semata. Bersama rekan-rekannya, Romo Padmo juga memastikan para pengungsi tetap menjalani proses kehidupan sehari-hari sembari menunggu kepastian keberangkatan ke negara ketiga.
Salah satu perhatian utama adalah kesehatan. Faktor kesehatan menjadi salah satu syarat penting bagi pengungsi untuk dapat diberangkatkan ke negara tujuan. “Jika ada pengungsi yang sakit, mereka akan dilayani dan diberikan perawatan sampai benar-benar sembuh. Selama berada di Camp Pulau Galang, para pengungsi sangat rentan terhadap penyakit. Salah satu yang paling sering terjadi adalah TBC, dan penyakit ini kerap menjadi alasan utama seseorang tidak dapat diberangkatkan ke negara ketiga,” tuturnya.

Selama hampir sepuluh tahun berkarya di Pulau Galang hingga tahun 1996, Romo Padmo menghadapi berbagai tantangan. Memasuki awal 1990-an, dunia internasional mulai memandang Vietnam sebagai negara yang relatif aman. Kondisi politik dan ekonomi yang dinilai membaik membuat para manusia perahu tidak lagi secara otomatis diakui sebagai pengungsi.
Para pengungsi di Pulau Galang pun harus melalui proses penilaian atau assessment berupa wawancara untuk menentukan status mereka. Mereka yang dinyatakan lolos disebut screen-in dan diakui sebagai pengungsi, sementara yang tidak lolos disebut screen-out dan diminta kembali ke Vietnam melalui skema repatriasi sukarela.
Kebijakan ini memicu berbagai penolakan. Banyak dari mereka yang dinyatakan screen-out menolak kembali ke Vietnam dan melakukan aksi protes. Dalam situasi yang penuh tekanan, bahkan ada yang memilih mengakhiri hidupnya.
Di tengah kondisi genting tersebut, Romo Padmo dan Gereja tetap hadir, memberikan pendampingan baik bagi mereka yang screen-in maupun screen-out. Kepada mereka yang harus kembali ke Vietnam, diberikan pengertian bahwa repatriasi dilakukan secara sukarela dan dengan jaminan keamanan dari komunitas internasional. Melalui upaya pendampingan dan persuasi yang konsisten, tidak pernah terjadi repatriasi paksa selama Pulau Galang beroperasi.
Mereka yang tergolong screen-out akhirnya bersedia kembali ke Vietnam dengan pendampingan organisasi internasional, sementara para pengungsi screen-in dapat melanjutkan perjalanan ke negara ketiga hingga Pulau Galang resmi ditutup.
Kisah pelayanan Romo Padmo di Pulau Galang menghadirkan gambaran nyata tentang kompleksitas situasi kemanusiaan pada masa itu. Di balik berbagai hambatan dan tantangan, ia memilih untuk tetap setia hadir dan menemani.
Bagi Romo Padmo, kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh perbedaan suku, ras, atau latar belakang apa pun. “Kemanusiaan yang adil dan beradab bukan hanya semboyan, tetapi harus dihayati dalam kehidupan sehari-hari. Kita semua sama-sama manusia. Karena itu, kita tidak boleh membeda-bedakan,” pungkasnya.
*Penulis adalah relawan JRS Indonesia – Jakarta